Oleh : Arswendo Atmowiloto
Komik Nasional adalah harta karun budaya yang kaya raya, menantang, juga tak habis digali. Dan Ganes TH dengan Si Buta Dari Gua Hantu, merupakan salah satu ikon puncak sejak Kho Wan Gie, R.A. Kosasih, Zam Nuldyn, Taguan Hardjo, bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Tak ada generasi pada zaman diterbitkan yang tak membaca atau mendengar atau melihat kisah-kisah Si Buta yang terang mata batinnya . Jawara yang tak asal membunuh, bahkan selalu memberi kesempatan bertobat kepada lawan-lawannya.
Ganes TH adalah sedikit dari komikus yang mampu membuat goresan sugestif dalam rangkuman cerita yang menawan. Kedua kemampuan ini melengkapi keunggulannya untuk berada dalam pencapaian komik nasional.
Salah satu tuntutan karya seni yang menjadi klasik dan sekaligus merakyat adalah karya seni tersebut dinikmati banyak orang, dan terjadi beberapa kali - melewati era ketika pertama kali diterbitkan, dijadikan film, dijadikan sinetron atau melalui media apapun. Dan itulah yang dicapai oleh Si Buta dengan idiom-idiom baju kulit ular, monyet cerewet di pundaknya, tongkat seperti tokoh-tokoh religius, ikat kepala sebelum dipopulerkan oleh Rambo, dan lebih dari itu adalah hatinya yang lembut, kerelaan dan keikhlasan yang tulus membantu orang lain - walau dengan demikian membahayakan nyawanya.
Si Buta menuntun kita untuk membuka mata batin kita akan kekayaan budaya, melihat kebutuhan sesuatu yang telah dicampakkan.