erwin prima's posts with tag: komik itu baik
Komik itu Baik (1): Komik Wayang, Siapa Tak Sayang?
Oleh: Arswendo Atmowiloto
Barda, pemuda yang dibakar dendam itu mengangkat goloknya. menyilang sejajar dengan mata. Digerakkan dengan tangannya sendiri, golok itu menggores matanya. Darah mengalir, dingin. Sejak saat itu Barda menjadi buta. Menjadi buta adalah rahasia kesuksesannya. Menjadi buta ternyata malah membuatnya sakti kepekaannya, instingnya, justru menjadi tajam karena terbebas dari pengaruh indera penglihat. Kesaktian inilah yang membuat Si Buta nama yang kemudian sangat populer, berikut tambahan nama tempat di mana ia belajar yaitu Gua Hantu, terus melanjutkan petualangannya. Seri demi seri judul demi judul, dilalui terus sejak pemunculannya yang pertama, (U.P. Soka, 1967), sampai sekarang ini. Jadi kurang’ tepat anggapan Goenawan Mohumad yang tidak melihat edisi Si Buta 1agi. (Prisma, Juni 77. h. 14). Si Buta tetap gondrong, bibirnya bagai garis tipis yang keras (tidak seperti umumnya orang buta yang bibirnya suka mencos), dadanya yang bidang terbuka (lantaran model bajunya tanpa kancing, krahnya terbuka lebar), dan pakaiannya masih model pertama sejak ia sakti, kulit ular. Dengan kaki telanjang Si Buta melanglang segenap penjuru, ditemani oleh Wanara, monyet hitam jelek yang suka bersuit kalau ada bahaya mendadak, dan tongkat (tentu saja tidak belang-belang) yang lebih merupakan senjata andalan. Di masa jaya Si Buta pernah merajalela di gedung bioskop yang utama, di slebor beca, stiker-stiker dan di tatoo kulit. Sebagai tokoh komik yang sukses, Si Buta juga terkena penyakit manja – mandi jarang. Agaknya tokoh yang besar ini jarang diperlihatkan kebiasaan sehari- hari, seperti makan, mandi, bersolek, seperti tokoh-tokoh lain yang terkenal Sri Asih, Kapten Yani, Mahesa Rani. Agaknya tokoh ini hanya perlu muncul pada masalah-masalah besar. ini tidak berarti mereka kehilangan sifat manusiawinya. Si Buta, Kapten Yani atau Wiro, sudah jauh lebih manusiawi dibandingkan dengan leluhurnya dari Amerika Serikat yang he nama Superman atau Tarzan. Superman dan Tarzan terlalu sulit dibayangkan, terlalu besar kekuatannya, nyaris tak ada cacadnya dan tak terkalahkan. Manusia yang terlalu sempurna: lengkap dengan hidung mancung dan kulit putih. Sedemikian sempurnanya sehingga menimbulkan bahaya: karena kekuatan fisiknya secara serentak hadir secara identik dengan kekuatan moral. Tarzan dan Superman selalu tampil sebagai pemenang karena kuat.
Komik yang pertama APA boleh buat, kalau penyakit itu pun ikut diimpor. Indonesia, hanya mengikuti jejak yang ada di luar negeri, karena begitulah hukum pengaruh: yang kuat mempengaruhi yang lemah. Akan tetapi sejak kapan komik Indonesia lahir? Pertanyaan ini pernah dicoba dijawab oleh Dr. Marcel Bonneff, dalam La Bandes deseinee Indonesiennes (Puyraimond, Paris, 1976). Buku ini merupakan hasil penelitiannya di Indonesia – terutama di Jawa, dan menuliskan bahwa komik yang pertama ialah Mencari Poetri Hidjau yang dilukis oleh Nasroen A.S. (h. 27). Ketika saya mengeceknya, ternyata komik itu dimuat dalam tengah bulanan dengan nama yang sama, persisnya pada tanggal 1 Februari 1939. Majalah Ratoe Timoer sendiri mempunyai kisah unik, Didirikan dengan redaksi Andjar Asmara, dan Nasroen AS sebagai atofteekenaar, pada nomor ke 3, sudah berganti nama menjadi Radja Timoer. Yang unik adalah alasan pergantian tersebut, yaitu kerena nama Ratoe Timoer adalah gelar atau nama dari Permaisuri dari S.P.J.M.M. Kandjeng Goesti Pangeran Adipati Ario Mangkoenegoro VII, yang adalah "hoord van het Mangkoenegorosche Huis di Surakarta". Cerita Mentjari Poetri Hidjau, adalah cerita fantasi – sesuatu yang selalu dilekatkan kepada lomik dan diasosikan secara buruk. Sedemikian buruk fantasi ini hingga segala macam akibat parah diderita oleh komik. Lamunan, khayal, membuat malas membaca, dan seterusnya. Tetapi baiknya kita kembali ke Poetri Hidjau. Ia ini, hmm, centik jelita bak bintang, putri kerajaan Deli Toea Soematra Timoer. Sedemikian cantiknya sehingga membayang bagai sinar di langit. Soeltan Atjeh yang melihat cahaya di langit, terpikat. Melamar. Entah kenapa lamaran ditolak. Tak ada jalan lain: untuk menunjukkan cinta, kekuasaan yang bicara. Perang besar terjadi. Soeltan Deli Toea mengubah dirinya menjadi meriam untuk memerangi Radja Atjeh. Saking panasnya, itu meriam terbelah dua, pangkalnya di istana Maimun, Medan, sedang ujungnya terpelanting di danau Toba. Rupanya, kerajaan Deli Toea keok. Poetri Hidjau tertawan, tetapi sempat bikin perjanjian dengan kakaknya yang jadi meriam. Yaitu Poetri Hidjau bisa bertemu, asal membawa bertih (beraa yang diqoreng) dan telor dengan cara dibuang di danau Toba. Itulah yang dilakukan Poetri Hidjau di tengah Toba, ketika ia sudah dibawa Soeltan Atjeh, Poetri Hidjau dihawa kabur naga besar. Dari prolog inilah, Nasroen AS yang digambarkan redakainya sebagai "seorang moeda, tukang ngelamoen yang soesah bandingannya" (h. 17) membuat komiknya. Tokohnya Rehatta dan Hirawati (sudah pop ya nama pelakunya) berusaha mencari di mana Poetri Hidjau yang dianggap benar-benar ada. Tehnik penggambaran adegan sudah moderen. Masing-masing adegan (kotak) berlanjut secara berurutan, sehingga secara keseluruhan akan ternikmati sebagai bentuk komik jaman sekarang. Bahkan sudah menggunakan dialog. Tidak dengan balon ucapan, akan tetapi sudah ada garis petunjuk siapa yang berbicara, di samping penjelasan naratif. Untuk urutan membaca, diberikan angka-angka urutan, di samping ada pula halaman urutan. Nasroen AS cermat penggambarannya, dan sudah menggunakan arsiran, serta raster. Ada nuansa dalam wajah tokoh- tokohnya. Ini membedakan dengan bentuk kartun, yang pelakunya digambarkan secara karikatural. Melihat kesempurnaan bentuknya, bukan tidak mungkin sudah ada yang dibuat sebelumnya. Ini sesuai dengan keterangan Zam Nuldeyn, 66 tahun, di rumahnya di Medan, yang pernah melihat karya Nasroen sebelumnya di majalah Loekisan Doenia.
Komlk dl koran Sesuatu yang masuk akal sekali. Komik adalah perkembangan yang mapan dari bentuk-bentuk ilustrasi, bentuk karikatur yang mendahuluinya. Dan sejak kelahirannya yang pertama sangat dekat dengan mass media. Jadi satu hal yang semestinya kalau sebelumnya, Nasroen AS, almarhum, sudah menjajal sesuatu. Sambungan berikutnya, terpaut agak lama. Baru ditemukan pada harian Sinar Matahari yang terbit juga di Jogya. Dengan tokoh Pak Leloer. (Sinar Matahari th I no. 22, 25-7-1942). Tidak ada tanda tangan atau inisial siapa yang membuat. Garisnya kaku– garis yang biasa digunakan oleh mereka yang baru mulai menggambar. Kisahnya mengenai taiso (bandingkan dengan aerobik sekarang), dan kisah mengenai Pak Leloer sehari-hari yang lucu. Yang menarik ialah penggunaan balon ucapan. Akan tetapi di sini bukan ucapan dalam balon, melainkan angka I dan II. Di bawah gambar ada penjelasan bahwa angka I tertulis begini. Jadi ada semacam keterangan gambar, Besar sekali kemungkinannya, cerita Pak Leloer mengenai propaganda Jepang, kalau mengingat secara keseluruhan isi harian tersebut pro Jepang. Akan tetapi di harian tersebut sempat juga tercatat komik Roro Mendoet yang dilukis B. Margono. Perkembangan berikutnya ditandai dengan tampilnya Abdulsalam, dengan strip komik di ha rian Kedaulatan Rakyat, Jogya, dengan cerita Kisah Pendudukan Jogya, yang dimuat sejak 19 Desember 1948 hingga 29 Januari 1949. Kisahnya betul-betul kisah sejarah, atau memakai realitas sejarah. Pemuatan tanggal 19 Desember itupun untuk memperingati tanggal penyerbuan tentara Belanda ke Jogya. Pendaratan di Meguwo, menyingkirkan Jendral Soedirman, ditangkapnya Bung Karno dan Bung Hatta, perjuangan tentara dan pelajar (diantara letkol Soeharto yang menyamar sebagai pedagang, ini menurut ingatan pelukisnya), dan terutama peranan penting Sultan HB IX, dan kembalinya Jendral Soedirman ke dalam kota Jogya. Sungguh cerita yang cocok dengan jaman waktu itu. Abdulsalam, kini 67 tahun, mempelopori komik revolusi, setelah lebih dulu membuat karikatur – juga Sdy, alias Drs. Sudyono yang masih gesit hingga sekarang di Mekar Sari, misalnya – di harian yang sama. Selain itu Abdulsalam juga membuat Pangeran Diponegoro, di Minggu Pagi, mulai 2 April 1960, dan Djoko Tingkir, mulai 16 Nopember 1952. Selain Abdulsalam, saya juga menemukan Abd. Sjukur yang membuat komik berjudul Suprijadi. Kisah revolusi juga. Coretan Abdulsalam, garis- garisnya kuat, penguasaan anatomisnya masih bisa dinikmati saat ini. Akan tetapi yang benar- benar menonjol ialah tokoh- tokoh yang lahir dari tangannya, adalah tokoh- tokoh dengan wajah Indonesia – wajah jawa! Sesuatu yang juga kita temukan pada tokoh-tokoh karya Wiwiek dan R. Soesilo kemudian. Sesuatu yang ternyata tidak bisa dicapai oleh komikus lain yang begitu dekat dengan pengaruh komik-komik Amerika.
Sri Asih dan Nina Misalnya saja dengan terbitnya buku komik (yang pertama) yaitu Sri Asih karya R.A. Kosasih dan Nina Putri Rimba karya Jonh Lo. Menurut ingatan Tan Eng Hiong, 68 tahun, penerbit Melodie, kedua tokoh serial itu terbit bersama, tahun 1953. Sri Asih, wajah lain dari Superman – Jonh Lo kemudian juga membuat Putri Bintang dan Garuda Putih, disusul Kapten Kilat terasa sekali pengaruh keajaiban dari superhero Amerika. Bahkan Sri Asih lebih kampiun. Gadis yang aslinya Nani yang selalu dianggap dungu ini bisa membesarkan badan hingga Lautan Hindia hanya mencapai lututnya. (Sri Asih dan Bajak Laut). Kenapa bisa begitu sakti, R.A. Koaasih 60 tahun, di rumah yang dibeli dari hasil komik itu di Bogor, tak bisa menjawab. "Nanti saja. Belum ketemu jawabnya." Nina karya Jonh Lo lebih moderen dalam pembuatan adegan. Hampir tak ada yang seragam.Dan tidak selalu kotak-kotak Ada lingkaran kadang adegannya yang satu menjorok sampai ke adegan yang lain. Begitu bergerak, dinamis, dan hidup. "Karena pengaruh filem dan komik Amerika," tutur Jonh Lo, 56 tahun, di rumahnya yang merupakan perpustakaan buku di Bandung. Saat itu komik laku keras. Kalau pengakuan penerbitnya saja sekitar 30.000 eksemplar, bisa dipastikan kenyataannya jauh di atas itu. Tapi meluapnya komik yang serba "ajaib", ’ sakti",’ "penuh khayal" merupakan bomerang. Komik diemohi. Di Semarang, dikumpulkan dan dibakar. Di kios- kios, di sekolah-sekolah razzia berjalan terus. Menjelang tahun 1960, itu (sekitar 1958-1959), Melodie menghentikan sementara, walau sebenarnya larangan resmi tak pernah ada. Tuduhan tambahan ialah, komik tidak mendidik, tidak berkepribadian nasional, membuat malas membaca. Saat itu membawa komik seperti mencari bahaya. Komik menjadi du fruit de fendu, kata Dr. Bonnef, menjadi buah terlarang. Sebagai jawaban dari kemelut ini, penerbit dan komikus tak mau kehilangan nafkahnya. Peluang yang tersedia adalah komik yang berkepribadian nasional: wayang dan cerita daerah. Sari cerita daerah berujud dongeng mulai merajai pasaran, dimulai dengan Ganesha Bangun oleh R.A. Kosasih. Juga komik wayang – yang diistilah komik klasik – mengambil cerita Ramayana, dan Mahabarata. Saat itu muncul Oerip, dan S. ’ Ardisoma, yang ditelorkan oleh penerbit Cosmos – penerbit tetangga Melodie di jalan ABC Bandung. Pengaruh wayang purwa oleh S. Ardisoma membaik. Apalagi karena gambar- gambar wayang serta penggunaan kuas untuk warna hitam putih sempat melahirkan situasi puitis: raja, suasana kraton, alun-alun, hutan, pohon beringin di kejauhan. S. Ardisoma, Oerip, dan juga Jonh Lo membuat komik wayang dari dasar pedalangan yang ada di Indonesia – sementara R.A. Kosasih langsung mengambil dari khazanah Sastra Hindu yang sudah diterjemahkan. Terasa perbedaannya ialah dalam komik wayang R.A. Kosasih tak ada tokoh Punakawan – sebagaimana aslinya wayang India. Selain Melodie, Keng Po pun (1954) menerbitkan lakon Lahirnya Gatotkaca, tokoh favorit dalam dunia pewayangan yang nasibnya tidak sebagus pribadinya. Kehadiran komik wayang, harus mendapat catatan tersendiri. Komik wayang adalah jenis komik yang aman. Tak disangsikan lagi, ceritanya sudah tersaring oleh jaman, lengkap dengan segala konflik, pemecahan, dan keasyikan perubahan plot-plotnya. Akan terbukti kemudian, cerita memegang peranan sangat menentukan dalam komik. Pujian kepada komik yang baik pun lebih banyak dalam hal membicarakan intisari ceritanya, serta penggunaan bahasa. Ini diakui oleh Taguan Hardjo, "raja komik" yang berkata santai di rumahnya di Medan. "Kalau seseorang mengatakan komik saya baik, itu karena mereka teringat ceritanya." Pada Taguan kelebihan meramu cerita beriring dengan kekuatan goresannya: tangguh, tetapi romantik, dengan penggunaan arsiran mendetail dan hidup – yang susah dicari tandingannya hingga sekarang ini. ....
(bersambung) Komik itu Baik (2) Koran Medan, Serta Cinta Jakarta Oleh: Arswendo Atmowiloto
Kedatangan Sri Asih, Putri Bintang ke Medan ternya ta mempunyai pengaruh kepada beberapa penerbit dan Komikusnya juga. Akan tetapi sesungguhnya mereka ini sudah berkarya sebelumnya lewat surat kabar. Inilah perbedaannya. Komik- komik yang diterbitkan di Medan (Harris, Casso, ATB, yang besar) melalui saringan lewat harian. Kalau saja harian itu berfungsi sebagai filter, saringan yang lolos darinya memberikan hasil yang baik. ( ceritanya tak bisa bertele- tele (walau harus diakui rata-rata komik Medan jurnlah halamannya lebih hanyak), bahasanya lebih terpelihara, variasi cerita lebih beragam. lni semua disebabkan adanya komunikasi timbal balik antara masyarakat pembaca dengan komikuanya. Reaksi pembaca, langsung atau tidak, mempunyai pengaruh kepada komik yang tengah dalam proses penciptaen, karena biasanya karya-karya itu tidak diselesaikan sekaligus sebelum dimuat. Zam Nuldyn, 56 tahun, rnembuat komiknya yang pertama dalam harian Warta Berita dan Majalah "Waktu", Mei,1955. Lakon serial Detektif Bahtar ini, bukan yang pertama muncul di Medan. Menurut ingatan Zam, M. Nur sudah mulai di Majalah "Waktu’’ di sekitar tahun 1952/53. Harian "Waspada" pun telah memuat karya Saleh Hasan, serial Wak Gantang. Saleh Hasan sekarang masih tetap lincah coretannya dengan 4 Sekawan di Pos Kota. Umumnya perhatian pada komik Medan, baru tergugah ketika Taguan Hardjo mulai mem uat bersambung Mencari Musang Berjanggut (1958) pada harian "Waspada" sebelum diterbitkan sebagai buku. Taguan tergugah semangatnya membuat komik karena pengaruh Mohamad Said, pimpinan "Waspada". Dan sesungguhnya peranan "Waspada" dalam perkembangan komik nasional sangat besar sekali. "Waspada" membuka ruang lebar bagi komik. Boleh dikatakan "Waspada" memanjakan komikus dan memberikan kernungkinan luas. Sampai sekarang masih bisa terasakan, walaupun Mohamad Said sudah diganti oleh isterinya. Sekarang di "Waspada" setiap harinya ada lima komik yang berbeda – dua dari luar negeri, dua kartun Johny Hidayat si senyum sandal jepit yang pop dari Jakarta itu, serta kartun yang lain – di samping lembaran minggu yang penuh dengan komik seperti yang disajikan Pos Kota setiap hari. Bangkitnya Komik Medan, berarti bangkitnya cerita daerah. Bersamaan dengan Melodie dan (Cosrnos yang menerbitkan Lutung Kasarung, Medan diawali dengan komikus kuat seperti Delsy Syamsumar, Bahsjar, Zam Nuldyn, Djas, Taguan Hardjo, Tino Sidin (yang sudah memakai tambahan nama Pak di depannya, tapi entah sudah pakai baret apa belum), di samping M. Ali’e, Lufthi, Iwan Gayo sampai Troy, yang muda dan berbakat. Pada perkembangan hingga tahun 1964, beberapa nama sempat menerobos ke atas, baik karena bukunya digemari maupun karena pengaruhnya. Tercatat Bahsjar SJ yang mendahului, Zam Nuldyn dengan segala ketekunan, kecermatan dan pilihan cerita daerah, Djas dengan seri lucu, serta Taguan Hardjo yang mengolah segala jenis humor, sejarah, petualangan, ataupun komik ilmiah.
Zam, Djas, Taguan Zam mempunyai ketelitian yang barangkali tidak ada bandingannya. Segala sesuatu dalam komiknya digambar riil, baik itu awan, udara, atau bayang- bayang. Pada awalnya, seri "Detektif Bahtar" belum menunjukkan itu. Juga pada "Luona", (Camo, 1966) tazan wanita lebih nampak bahwa Zam lebih dekat dengan gaya melukis Bahsjar atau Taguan. Zam kelihatan mempunyai kelebihan tersendiri pada "Dewi Krakatau", Paluh Hantu atau "Putri Karimata". Pada "2000 Tahun Danau Toba ", yang dihasilkan bukan lagi bentuk. komik. yang lazim, tetapi pameran kecermatan, ketekunan setiap milimeter dari kertas yang dikuasai. Zam juga menarik karena pilihan ceritanya menggali khasanah dongeng daerah – meskipun harus disadari dongeng selalu terasa seperti mencari- cari, apalagi jika dicoba dihubungkan antara nama tempat dengan kisah dalam dongeng. Djas, adik kandung Zam, menampakkan keseriusan yang sama. Tetapi kelebihannya terutama dalam menggarap kisah humor seperti yang diterbitkan Casso yaitu "Dja Ultop", "Wak Somok ", "Si Lojo", dan yang menyajikan kisah mengerikan "Wak Bendil". Dari mereka ini, Taguan Hardjo melesat teratas. Baik dalam jumlah komik, maupun pilihan cerita yang digarap. Taguan membuktikan bahwa komik tak bisa dipandang enteng. Penguasaan arsiran tipis, lembut dalam menonjolkan penguasaan anatomi, keseriusannya dengan riset, dan plot-plot ceritanya yang tak mudah dilupakan setelah sekian lama. Rata-rata yang dihasilkan Taguan menarik. "Keulana" (1959) semi sejarah, "Dul Molek" (1960), kisah lucu, dan terutama "Batas Firdaus" ( Desember 1962), yang semuanpa diterbitkan oleh Fa. Harris. Setelah itu masih lahir seri yang lain, seri Prabina seperti "Narnanya Manusia", "Mati Kau Tamaksa" (1967) serta karya satiris ’Si Pinto Minta Kuat" (1972). Betul-betul komik emas yang membanggakan dalam dunia komik Indonesia, yang akan terasakan pengaruhnya.
Komik perjuangan Bersamaan dengan masa-masa komik Medan (1958-1964), muncul cerita-cerita perjuangan. Cocok dengan suasana saat itu (siapa berani membantah kenyataan bahwa komik merupakan cermin yang menerima pantulan realitas masyarakat?) jenis "ganyang nekolim" merajalela. Baik dalam kehadiran yang persis seperti itu, maupun yang tersamar dalam kisah kepahlawanan Trunojoyo, Pattimura maupun hadirnya Srikandi-Srikandi baru. Dr. Marcel Bonneff mencatat bahwa judul-judul seperti perlawanan pada Belanda dengan judul tersebut di atas, atau pada Jepang (Pembebasan, Srikandi Tanah Minang) maupun pada Sekutu (Pejuang tak Kenal Mundur) atau bahkan serial perlawanan dengan Irian Barat dan Kalimantan Utara, merupakan kesatuan utuh di mana pendorongnya juga berlaku dalam dunia politik (Les Bandea dessjnes Indonesiennes, h. 36). Masa komik yang mengganyang nekolim terus berkelanjutan dengan mengganyang rambut Beatles, rok mini, sasak. Namun pada saat berikutnya, setelah 1965, corak berbalik ke komik cinta. Lengkap dengan pelaku anak muda, cinta pantai, sentimentil, syahdu bagai lirik- lirik lagu, bagai tulisan di buku harian. Masa itu adalah masa panen dalam dunia komik. Tercatat banyak’ penerbit di berbagai kota. Selain Bandung, Jakarta dan Medan yang memang sudah lebih dulu, kota Surabaya ikut bangkit, bersama Semarang, Solo, Jogya, Palembang, bahkan Tasikmalaya, dan Bogor. Akan tetapi kemudian penerbit-penerbit di Jakarta yang merajai pasaran. Kalau kita percaya apa yang ditulis Eres (No. 9, Juli 1970) majalah komik yang populer waktu itu, ada seratus nama komikus. Mungkin berlebihan, tetapi jumlahnya memang tidak sedikit. Tercatat nama-nama seperti Jan Mintaraga, Fasen, Zaldy, Sim, Hana Jaladara, Teguh Santosa, Mopizar, Budiyanto, Tati, Leo, U. Syah, Djair, Ganes Th, Yudhah Noor, Absoni, Tatang S, Rio Pur baya, Gerdi WK, Budiangin, Mansur Daman. dll.
Jan, Teguh, Ganes Dalam saringan waktu ada tiga nama yang mencuat dan terus bertahan. hingga sekarang. Jan Mintaraga, yang pernah kuliah di Asri Jogya, jurusan interior (1962) dan ITB Bandung, memulai dengan "Cinde Laras!" (Arya Guna), serta "Rajawali Menuntut Balas", yang masih berbau tokoh-tokoh Amerika. Jan mulai menarik minat pembacanya dengan "Sebuah Noda Hitam" (1968). Segera disusul dengan "Rhapsodi Dalam Sendu". Pengaruh Jan begitu keras pada komik remaja, sehingga pelukis muda yang mengikutinya mudah ditebak siapa yaag mempengaruhinya. Prianya gondrong, matanya sinis, acuh dan pakai jaket sebagai penutup kaos. Kalau merokok, rokoknya seperti mau jatuh. Celananya mungkin bangsa jin belel. Sedang tokoh gadisnya selalu bermata indah, rada membelalak, dan dandanan rambutnya sangat anggun bak pramugari udara, apalagi pakaiannya entah kenapa potongannya sportif. Sedang tokoh ayah dan ibu, sebagai orangtua muncul dengan sedikit gemuk, berkacamata dan sang ibu mengenakan kebaya. Untuk peran pelayan atau sopir, cukup afdol kiranya dengan tambehan peci hitam. Kalau perlu celananya sedikit komprang. Jan juga menggarap detail kecil pada latar belakang, biasanya bangunan moderen, interior sebuah ruangan, tirai, baju kotak-kotak dengan cara yang menonjol. Juga mulai penggunaan tinta putih untuk memberikan effek-effek tertentu.
Teguh Santosa, mulai karirnya sebagai ilustrator pada majalah berbahasa Jawa, "Djaja Raya " dan kemudian "Gelora ". Kisah yang diketengahkan kisah kepahlawanan rakyat seperti Ranggalawe, Airlangga. Komiknya yang pertama "Suma" (PP Rose 1963) yeng terdiri dari beberapa jilid, menegaskan kelebihannya. Tekun, serius, sampai kepada teks yang dituliskan dalam huruf-huruf yang perbandingannya tetap. Sungguh prestasi yang tak diikuti oleh komikus yang lain. Waktu membuat "Suma", Teguh masih banyak menggunakan arsiran silang. Belum memainkan blok hitam putih – yang kemudian menjadi ciri khasnya. Kekhasan yang lain ialah tokoh heroik, dan memiliki wajah Indonesia. Apa lagi tokoh perempuannya, selalu berambut panjang, montok dan.... hmm, gemuk. Teguh mulai memukau penggemarnya dengan Sandhora, 10 jilid, lalu Mat Romeo, Mat Pelor, tanpa pernah kehilangari daya pikatnya yang tersendiri.
Ganes Th, memulai sebagai ilustrator juga dan banyak membuat komik remaja .namanya baru menggigit pembacanya ketika "Si Buta dari Gua Hantu" lahir. Sejak itu serial Si Buta terus rnerajalela, sarnpai ke gedung bioskop karena diangkat sebagai filem. "Si Buta", komik pertama yang diangkat ke layar putih. Dan bukan satu-satunya karya Ganes, karena masih ada "Tuan Tanah Kedawung" (Tidar Filem, 197’2), ’ ’Sorga yang Hilang" ( Daya Isteri Filem, 1977) serta beberapa judul lagi. Adegan komiknya lebih banyak menggunakan kernampuan gerak dari pada bahasa. Itulah kelebihannya yung segera menutup kekurangannya menggambar naturalis. Wajah-wajah tokoh dan suasana seperti meletot – seolah diambil dengan kamera wide – malah memberikan ekspresi. Ya, Ganeslah yang menampilkan ekspresi tokoh-tokohnya, walau kebanyakan ekspresi dendam, marah dan keringat. Ganes, seperti Teguh, mampu menyusun adegan-adegan dalam gambar berurutan secara filmis
Opterma Pada masa pemunculan mereka bertiga, seperti telah ditulis di atas, komikus yang lainnya berdesakan. Penerbit juga asal bikin. Bukannya tanpa alasan kalau wabah kornik mencemaskan. . Jenis-jenis yang membuat kita geleng-geleng kepala inilah, yang akhirnya merupakan senjata pembunuh. Komik dijauhi. Razzia oleh Operasi Tertib Remaja (Opterma) berjalan gencar, dan komik-komik yang akan terbit harus lewat ijin Kepolisian. Memang masih banyak yang terbit, terutama suasana komik yang meriah kembali suram. Komik hidup di kios-kios, dijajakan dengan hati-hati dan was- was. Tak ada ledakan baru. Penerbit-penerbit yang berikutnya lebih memilih yang benar benar aman. PT Gramedia menerbitkan seri "Album Cerita Ternama", (1975) komik "Walt Disney", (1976), secara teratur begitu juga penerbit Kanisius Jogya, ataupun Indira dengan serial Tintin. Saat-saat yang kalem. Terlalu kalem?
|
|