| Ganes Th dan Korpus Tujuh Pendekar oleh Seno Gumira Ajidarma Dipublikasikan di harian Kompas, 20 Agustus 2006
Kisah "Banjir Darah di Pantai Sanur", yang diterbitkan pertama kali tahun 1968, adalah perayaan atas keempuan Ganes Th sebagai penggubah komik. Jika "Si Buta dari Gua Hantu" (1967) adalah tonggak pertama, dan "Misteri di Borobudur" (1967) mengukuhkannya, maka "Banjir Darah di Pantai Sanur" adalah demonstrasi kepiawaiannya dari berbagai segi. Bukan saja ini mengukuhkan keberadaan Ganes Th sebagai komikus, tetapi lebih lagi menegaskan kesahihan komik silat sebagai suatu genre: komik silat itu isinya bukan hanya "banjir darah", melainkan drama menggetarkan atas perjuangan manusia untuk memanusiakan dirinya. Cerita komik ini jelas menyatakan hal tersebut: seorang tua, Made Ngura, telah menyeberang dari Bali ke Jawa untuk mencari sejumlah pendekar agar menyelamatkan Sanur, desa di pinggir pantai yang tertindas gerombolan perampok pimpinan I Gusti I Banda Puraray.
Made Ngura yang diutus kepala desanya itu akhirnya berhasil mengumpulkan Barda Mandrawata Si Buta dari Goa Hantu, Daeng Martundong, Datuk Sigura-gura dan Sabai, Patih Mandalawe Kebo Dungkul, Lagora Si Singa Laut, dan tentu saja Gito Si Bocah. Satu pengertian menjelaskan kemanusiaan yang dimaksud: para pendekar ini mengorbankan kepentingan pribadinya untuk menolong sesama manusia, bahkan juga jika hal itu menuntut pengorbanan nyawa. Di akhir cerita, memang hanya Barda dan Sabai yang masih hidup, menyaksikan betapa mahal harga yang harus dibayar untuk menegakkan kemanusiaan itu.
Alur memikat Adapun cerita macam itu tersampaikan melalui suatu alur (plot), yang dalam perwujudannya sebagai komik, memperlihatkan keempuan Ganes Th.
Pertama, alur itu tersusun dengan sangat memikat. Bagi saya bukan hanya adegan "banjir darah" di Pantai Sanur itu sendiri yang membuktikan kepiawaiannya bercerita, melainkan proses ditemukannya para pendekar satu per satu yang mengesankan. Barda yang menolong bayi, Daeng Martundong yang dengan otaknya mengalahkan otot, konflik Datuk dan Patih Mandalawe, Si Bocah yang terus menguntit, dan adegan laga akrobatik dalam pertempuran di Selat Bali dalam benturan kapal Lagora dan bajak laut Burdu Si Naga, tempat munculnya Tri Wisa Sarpha.
Dengan kata lain, dalam komik silat, kita bisa menguji kepiawaian penggubah komik bukan dari adegan laganya, melainkan justru dari adegan-adegan bukan laga (nonaction), dan di sana Ganes membuktikan bahwa komik silat tak melulu bermodalkan teriak "Ciaaattt!" dan jerit kematian "Aaaaaa!", melainkan juga berbagai momentum dramatik tanpa teriakan, seperti percakapan Si Buta dengan Sabai, yang sungguh beruntung kita dapatkan dari seorang Ganes.
Kedua, para tokohnya muncul dengan karakterisasi yang kuat. Ibarat sutradara, Ganes Th sangat pandai mengarahkan para aktornya. Sangat kuat penggambaran karakter Daeng Martundong, Datuk Sigura-gura, Gito Si Bocah, selain tentu Si Buta sendiri, tetapi juga tidak kurang dengan kepala desa I Nyoman Putu Oka yang berubah menjadi Leak Hitam. Daeng yang selalu sedih dan pendiam, Datuk yang periang, Si Bocah yang polos, boleh dibilang tergarap karakterisasinya secara luar biasa melalui penggambaran mereka yang ekspresif. Pernah dinyatakan Arswendo Atmowiloto, kekuatan gambar komik Ganes adalah coretannya yang ekspresif dan mampu menyiratkan suasana; bagi saya gambar ekspresi wajah coretan Ganes adalah juga luar biasa, kita bisa membaca karakter seseorang dari sana, karakter seperti diekspresikan seorang aktor berkelas.
Ketiga, apabila telah dinyatakan bahwa penggarapan alur Ganes sangat memikat, akan dibuktikan kembali dalam konteks Banjir Darah di Pantai Sanur, bahwa pernyataan itu antara lain mendasarkan diri kepada keberadaan sebuah alur bawahan (subplot) yang menghubungkan Datuk-Daeng-Gito-Sabai dalam suatu cerita tersendiri, yang menurut saya, jauh lebih dramatik dan dengan begitu memberi bobot penting kepada Banjir Darah di Pantai Sanur itu.
Tanpa alur bawahan yang satu tersebut, cerita ini akan terlalu banyak terisi "banjir darah" meski alur bawahan tersebut berhubungan dengan darah juga—tetapi adalah drama manusianya, yang melahirkan ironi begitu pahit (Sabai ternyata adik Gito, Daeng ternyata ayah Gito, Datuk ternyata penolong istri Daeng), membuat komik ini mempunyai posisi penting.
Korpus tujuh pendekar Saya katakan penting, bukan hanya dalam konteks komik Indonesia, melainkan secara lebih luas dalam apa yang boleh kita sebut "korpus Tujuh Pendekar". Telah disebutkan komik ini terbit pertama kali tahun 1968, artinya terbit setelah beredarnya film The Seven Samurai (Akira Kurosawa, 1954) maupun The Magnificent Seven (John Sturges, 1960). Semuanya mempunyai cerita yang sama, sejumlah jagoan diminta untuk melindungi desa dan membasmi perampok, pada akhir cerita perampok terbasmi, tinggal satu atau dua jagoan tersisa sehingga yang bisa disebut menang adalah para petani.
Sementara, The Magnificent Seven telah secara "resmi" dalam sejarah film dianggap sebagai adaptasi The Seven Samurai, saya tidak berani memastikan dari mana salah satu di antara keduanya bisa dihubungkan dengan Banjir Darah di Pantai Sanur. Mungkin saja dua-duanya.
Dari segi peredaran film tahun 1960-an setelah Orde Baru, lebih cenderung The Magnificent Seven yang beredar di Indonesia, tetapi berbagai adegan dan karakter dalam Banjir Darah di Pantai Sanur mendekati The Seven Samurai, adegan Si Buta menolong bayi dengan minuman sebagai umpan, misalnya, atau karakter Si Bocah dengan pedang besar yang dipanggul itu, mengingatkan kepada tokoh yang juga tak bernama dalam permainan aktor Toshiro Mifune. Namun, yang mana pun acuan Ganes, jelas telah berlangsung penafsiran kreatif yang membuktikan kelas Ganes, seperti juga berbagai film hebat Kurosawa yang mengadaptasi drama-drama Shakespeare.
Bukan saja bahwa semangat "Wawasan Nusantara" telah membuat Ganes berbeda dalam karakterisasi tujuh pendekarnya, tetapi alur bawahan Datuk-Daeng-Gito-Sabai itulah yang bagi saya membuat Banjir Darah di Pantai Sanur dalam formatnya sendiri tidak usah dianggap di bawah kelas film The Seven Samurai, yang meski legendaris tidak memiliki alur bawahan semacam itu. Dengan begitu Ganes telah memperkaya "korpus Tujuh Pendekar" dalam dunia manusia.
Bisa dikatakan, dalam perbandingan maupun dalam dirinya sendiri, Banjir Darah di Pantai Sanur adalah karya Ganes yang layak dipertaruhkan untuk memperbincangkan martabat komik silat Indonesia. Dua judul komik seri Si Buta dari Gua Hantu telah diterbitkan ulang. Apabila seri ketiga ini juga terbit kembali, semoga pembaca budiman masa kini bisa menikmati, seperti saya telah mendapatkan kebahagiaan dalam membacanya, pada tahun 1968 maupun 2006.
|