Blog EntryTiga Yang BerhargaNov 30, '07 1:58 AM
for everyone

Tiga yang Berharga (1)
Abdulsalam Pejuang tanpa Pensiun
oleh : Arswendo Atmowiloto


Dalam mengamati kelahiran dan pegkembangan Komik Indonesia, ada tiga nama yang berharga.
Ketiga komikus ini telah membuktikan bahwa komik bisa hadir tanpa darah, sadisme, porno, yang 

merupakan ”penyakit rakyat” dalam dunia komik. Ketiga nama itu, juga memrperlihatkan keseriusan dalam menangani komik dengan segala keterbatasan dan kelebihan masing-masing. Keseriusan penanganan ini
terlihat bukan hanya pada gambar-gambar’ yang dibuat lahir dari pengendapan maupun riset, bukan hanya pemilihan cerita yang tidak sembrono, akan tetapi terutama karena ada semacam satu sikap. Sikap menganggap bahwa komik adalah media untuk menyatakan kehadirannya bukan terbelah sebagai tempat mencari makan semata, bukan ikut-ikutan yang dengan sendirinya meilbatkan tanggungjawab kulturil maupun tanggungjawab sosialnya. Ketiga nama itu ialah Abdulsalam, Zam Nuldyn dan Taguan Hardjo.



Abdulsalam, 67 tahun, masih membuat komik ketika saya datang di rumahnya, Demangan Baru, Jogya. Tiga buah buku bergambar HVS yang tebal, ditekuni kisah perjuangan selama tiga bulan. Coretannya sedikit gemetar, tidak tangguh seperti dulu. Juga penggunaan. arsiran yang dulu halus, rapi, untuk bayang-bayang atau bagian yang tidak kena sinar, kini agak ragu. Kalau detail diperhatikan, tidak lagi garis-garis yang lepas tetapi kini bersambungan, seperti kehabisan spontanitas. ”Saya sudah tua,” katanya dalam bahasa Jawa halus. ”Mata sudah tidak awas,” lanjut ayah dari 9 anak (4 lelaki, 6 sudah berkeluarga).

Statistik
Seperti lazimnya, cita-cita menjadi seniman tidak mendapat restu dari keluarga sekarang atau dulu, Apalagi Abdulsalam dari keluarga terpandang. Lahir di Banyumas, Jawa tengah, 9 April 1912, mulai tertarik menggambar sejak kecil. Tetapi kenapa dilarang? ”Ayah ingin saya menjadi pamong praja, menjadi pegawai negeri. Menjadi pelukis dalam bayangan masyarskat waktu itu menggambar perempuan telanjang. Dan seniman kan penghasilannya tidak tetap.” Abdulsalam masih tetap menggambar. Setelah keluar dari Mulo (sekolah menengah pertama jaman Belanda) di Bandung, bekerja di bagian statiatik. Kantornya di dekat Pasar Baru, Jakarta. Ia sudah pindah ke Jakarta, sebagai bujangan dengan gaji 32 gulden. Cukup besar, karena,
berdasarkan ingatannya, pakaian komplit hanya 6 gulden dan sepatu bata hanya 1 guiden masa itu. Dalam waktu singkat gajinya naik terus, dan ia bekerja rangkap pada perusahaan iklan. Sebulan ia menerima 95 gulden (30 gulden dari perusahaan iklan di mana ia kerja setengah hari), akan tetapi ”Habis semua, saya tak bisa pegang uang.” Di bagian statistik, ia tidak sekedar membuat garis naik turun, melainkan sudah memakai contoh gambar orang. Ini belum terbiasa waktu itu. Tahun 1941 kawin di Banten. Lalu terjadilah apa yang juga dialami semua rakyat Indoneaia. Peperangan berlarut. Di bagian statistik tak ada pekerjaan dari mana angka bisa masuk? Atas perintah Menteri Pringgodigdo, waktu itu, Abdulsalam kembali ke Puwokerto. Nganggur di ’sana, tetap terima gaji. ”Tertekan sekali perasaan kita Kerjanya cuma ngobrol dan menunggu jam 2 siang agar bisa pulang. Masuk ALRI di Cilacap sebentar (tahun 1948), sesudah itu bergabung dengan S. Sudjojono pelukis-pelukis lain di Solo. Membuat poster untuk pejuang, membuat majalah ilustrasi untuk loekisan , yang beredar di garis depan.

SIM
Keterlibatan ini merupakan keasyikan bagi Abdulsalam. Namanya mulai dikenal sebagai karikaturis dan

ilustrator. Gambarnya sempurna (pun dalam karikatur-karikaturnya), dan mudah dikagumi masyarakat pembaca. Karikatur-karikaturnya waktu itu diberikan gratis begitu saja kepada media yang mau memuatnya seperti Kedaulatan Rakyat, Patriot, Nasional. Ketika di Taman Siswa ada percetakan tangan, bersama rekan-rekan seniman, mereka membuat koran. Kertasnya dibuat dari kertas merang, tipis dan mudah sobek. Tentu saja isinya mengenai perjuangan. Rupanya disamping urusan mengambil kertas dari pabriknya, Abdul salam sempat bergabung dalam Seniman Indonesia Muda (SIM), bersama dengan pelukis S. Sudjojono, Sudibyo (kini di Madiun), Surono (kini di Bali) serta Soekanto (kini jadi pendeta). Semua pelukis. Itu memang saat-saat sejarah seni lukis Indonesia sedang terjadi. Akan tetapi, walau didorong oleh Sudjojono, Abdulsalam menolak. Ia ingin menjadi ilustrator, membuat karikatur, dan komik. ”Saya sudah memutuskan mau jadi ilustrator saja. Pelukis sudah banyak.”

 

Bonong dan Blentung
Tahun-tahun di Jakarta, Abdulsalam sudah mulai membuat ilustrasi pada Pemandangan (redaksinya Anwar Tjorkoaminoto dan Sundoro) serta Hidangan (redaksinya antara lain Tabarani).
Agaknya ini yang memantapkan pilihannya. Saat itu Abdulsalam menciptakan kartun komik yang diberi nama Bonong dan Blentong. Bonong, dari namanya bisa diketahui nama anak yang kepalanya gede, serta Blentong, dari namanya bisa diketahui nama anak yang perutnya kayak kodok, adalah serial kocak. Tidak berbeda dengan Put On. Sayang sekali penciptanya ini tak bisa mengingat tahun-tahun pembuatannya dan di mana dimuatnya, seperti juga tokoh lain, Sastro Cokok, yang diciptakan kemudian.

Buku Komik Pertama

Yang bisa diteiusuri adalah komiknya yang pertama, yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Jogya, 19 Desember 1948 berjudul Kisah Pendudukan Jogya. Komik strip ini dirnuat 30 kali. menurut Abdulsalam, ia adalah pengagum Alex Raymond yang seperti para pendahulu komik lndonesia, mengenal karya- karya
tersebut melalui kertas pembungkus. Waktu itu timbul keinginannya membuat komik Indonesia. Hal ini diusulkan kepada Wonohito, pimpinan harian tersebut. Menurut Abdulsalam, Wonohito setuju, akan tetapi honornya sangat kecil.
"Pertama Koran daerah, dan kedua kalau membeli dari luar negeri juga sedikit harganya." Apa yang dikemukakan Abdul salam masih terjadi hari ini! Komik-komik dari luar negeri bisa didapatkan lebih murah harganya. Dan lebih leluasa memilih karena contohnya lengkap, tersedia sekian seri yang terdiri dari sekian jilid. Saya ambil contoh dgn serial Trigan yg ada di Majalah HAI, misalnya. Contoh komiknya bisa dilihat lebih dahulu dalam bentuk jadi, dalam bentuk buku. Seri yang ada tersedia dalam daftar. Pun harga filemnya jauh lebih murah sudah termasuk hak mengedarkan di Indonesia. Artinya kita membeli hak edar itu sekaligus mendapatkan filemnya. Untuk komik berwarna, ongkosnya jauh lebih murah. Komik Ratmoyo yang berwarna, untuk membuat filem perhalaman yang berukuran 21 cm X 28 cm (berikut pemisahan warna) Rp 30.000 Lebih. Honor komikusnya Rp 15.000,- Berarti total mencapai Rp 50.000,- per halaman. Ini belum seluruhnya karena masih harus membuatkan teks yangditempel. Untuk hal yang sama, dari luar negeri tidak mencapai separuh pengeluaran itu. Begitu juga komik hitam putih. Untuk komikus senior seperti Jan Teguh, Ganes, Majalah HAI memberi honor Rp 10.000 perhalaman. Pengeluaran majalah tersebut masih ditambah untuk membuat filem sebelum dicetak. Padahal, pengeluaran di bawah separuh dari itu, cukup untuk mendapatkan komik dari luar negeri, kadang dalam bentuk Glem atau PMT! Penerbit seperti Majalah Anak-anak Kawanku, Ananda, yang secara kontinyu memuat komik nasional, sesungguhnya boleh dikatakan idealis.

Kisah Pendudukan Jogya, bercerita mulai pemboman Maguwo, serta turunnya pasukan payung Belanda sampai masuknya kembali tentara Jenderal Soedirman ke dalam kota. Abdulsalam tidak banyak merubah jalan cerita, tidak juga terlalu membumbui. Rentetan kisah yang dituturkan adalah realitas sejarah. Sidang Kabinet 19 Desember 1948 pagi, menyingkirnya Jendral Sudirman ke gunung, ditangkapnya Bung Karno dan Bung Hatta, pengosongan, pengungsian, gerilya, perjuangan di luar negeri, ketabahan Menteri Soepeno menghadapi maut, penyerbuan umum atau serangan.l Maret, serta peranan penting Sri Sultan

Hamengkubuwono IX. Sayang sekali saya tak bisa menemukan berkasnya. Di harian Kedaulatan Rakyat tak ada sisa. Di perpustakaan Negara Jogya, korannya ada, tetapi pada tanggal pemuatan tak ada. Tetapi saya menemukan katalogus atau kartu bahwa Kisah Pendudukan Jogya itu pernah di- bukukan. Ini sesuai dengan iklan dalam Minggu Pagi. Terbit sebagai buku pertama tanggal 19 Desember 1952, tanggal penyerbuan tentara Belanda.’ Ini berarti Kissah Pendudukan Jogya merupakan buku komlk yaag pertama terblt. Ini penemuan menarik karena penyelidikan M. Bonneff menyebutkan buku komik pertama adalah seri Sri Asih, yang disebut-sebut sekitar tahun 1953. Padahal bukan tidak mungkin malah baru terbit Juni 1954 (des Bandes dessines lndonesiennes h. 28)  Segera hasil tangan Abdulsalam menyusul. Djoko Tingkir dimuat di Minggu Pagi, 16 Nopember 1952 dan Pangeran Diponegoro. Sayang karena tidak ada penyesuaian faham dengan Wonohito, komik berikutnya tidak lahir. Malah Pangeran Di ponegoro pernah juga dimuat bersambung di harian Pikirari Rak-yat, Bandung, sekitar tahun 1952.

 

Tanpa pensiun.
Sebenarnya hidupnya ayem. Tahun 1962 mengajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang terkenal nyeniman. Pelajaran yang diberikan seni grafik (yang masih baru) dan ilustrasi. Namun setelah peristiwa G 30S, ia diberhentikan. Ia mempunyai surat keterangan tidak terlibat, dan lulus dari screening, tetapi, "saya di tertawakan ketika memperlihatkan surat itu untuk bekerja kembali atau mencari pensiun." Tiga puluh empat tahun bekerja, ia tak sempat menikmati di hari tua. Kenapa memilih komik dengan tema perjuangan? "Karena pengalaman saya sendiri. Dan juga pengalaman pejuang-pejuang dulu. Seperti misalnya pengalaman saya ditahan Belanda, pengalaman Pak Marmo (sekarang ketua Badan Sensor Filem) menyelundupkan surat pada ban sepeda. Karena ingin memberikan arti perjuangan. Kan dulu jaman perjuangan Kok sekarang juga masih membuat dengan tema yang sama? "sekarang sedikit komik per- juangan. Lagi pula saya kan melihat sendiri sepatu Gurkha, pakaian seragam Jepang secara otentik. Saya hanya bisa membuat percikan-percikan legenda." Memang. Dan disitulah tempat Abdulsalam. Komiknya lebih menyajikan realitas eejarah, dari pada liku-liku atau plot cerita. Mungkin kurang mengasyikkan – kecuali Legenda seperti Joko Tingkir atau Timun Emas tapi tak bisa diabaikan begitu saja. Perjuangan, judul komik yang baru saja dirampungkan, tak jauh berbeda dengan komik pertama yang dibuat tiga puluh satu tahun yang lalu. Masih perang dengan Belanda tanpa pernah kendor. Semangat juangnya tidak berubah, tidak mengenal kata akhir. Barangkali perjuangan tak mengenal pensiun.


Tamat (bagian pertama)

 

 

 

 

 

Tiga yang Berharga (2)
Zam Nuldyn
Jendral yang Membuat Jalan

Oleh: Arswendo Atmowiloto



Tak ada komik seunik karya Zam Nuldyn.
Unik karena adegan peradegan bisa dinikmati sendiri. Zam, seperti tidak membuat komik sebagai satu kesatuan dari berbagai kotak demi kotak. Zam asyik menekuni bagian demi bagian, detil demi detil. Kalau pembacanya sabar meneliti garis-garis komiknya, waktu yang dibutuhkan pasti lebih lama dari membaca novel tebal. Memang dengan demikian "gerak cerita" menjadi lamban. Tetapi cerita pada komik Zam bukan merupakan tulang utama sepeti pada Taguan Hardjo misalnya. Zam memilih kisah yang berbau sejarah, legenda, yang untuk mengomikkan perlu ketelitian dan kesabaran. Ketelitian karena apa yang dibuat berdasar fakta sejarah: pakaian, adat istiadat, dunia hewan, alam, yang kesemuanya dicoret dengan pena (bukan sapuan kuas dan belum menggunakan raster!). Semua effek tadi diungkapkan dengan pena. Sebaris tipis demi sebaris, berimpit, titik pendek, lebih pendek, lebih pendek lagi. Semua bisa diperhatikan sebagai pameran kecermatan. Teks yang ditulis. Di bawahnya, pada awalnya dengan huruf demi. Huruf permulaan ini direnda-renda, diukir, dalam bentuk ysng lebih besar. Lalu huruf-huruf berikutnya mengikuti, dengan perbandingan besar huruf yang terjaga. Pada kata yang perlu penekanan, dituliskan agak tebal, sedangkan dialog dituliskan dengan huruf miring. Kerapian yang apik makin lengkap dengan beberapa detil. Peta yang digambarkan, lengkap dengan keterangan sungai, dataran, danau. Atau nama-nama tokoh yang digambarkan sekaligus wajahnya, sifatnya, atau tahun-tahun hidupnya. Kesemuanya digali dari bahan-bahan yang dicari sendiri, diperkirakan dan dihidupkan. Tidak mengherankan jika satu hari satu halaman komik belum selesai separuh. Padahal tak ada yang menyuruh toh honornya sama saja. Tetapi Zam malakukan dengan keseriusan yang tetap. Ia terus mengukir istilah dari rekan dekatnya, istilah yang sedikit memperoloknya. Zam tidak perduli. Di situlah potretnya berdiri. Ternyata ada komikus yang menyintai profesinya secara tulus. Ternyata dalam dunia komik yang begini masih ada.

Lahir di tempat hantu
Nama sebenarnya Zamal Abidin Mohamad, singkatannya Zam Nuldyn, kadang dituliskan Zam Nuldeyn, kadang malah Zam Nuldeyin. "Repot untuk menyasuaikan dengan ejaan. Nama terakhir ketika ejaan diperbaharui. Tetapi malah salah kalau diucapkan." Lahir 30 Desember 1923 di Pajak Ikan Lama, Labuan Deli, Sumatera Tirnur, yang dilukiskan sebagai tempat "jin dan hantu". Ibu keturunan Melayu, ayah dari keturunan Minang, ist rinya dari Aceh yang dinikah tahun 1945. Sejak kecil suka menggambar. Dan hanya menggambar yang membuatnya bangga. Dan sejak kecil hingga sekarang ini, setiap menitnya dilewatkan dengan menggambar. "Saya hanya bisa omong dengan cergam." Bagi Zam, nama komik mengandung asosiasi buruk. Ketika komik banyak diserang Zam menciptakan istilah cergam kependekan cerita bergarnbar. Malah sempat mendirikan majalah Cergam, tetapi hanya dua nomor. Pernah menjadi guru gambar di sekolah Setia Budi sekarang lebih dikenal dengan sekolah Pendidikan Harapan tahun 1942. Dalam suasana perang Zam berpindah ke Pematang Siantar, kembali ke rumah isterinya di Aceh. Saat itu hanya berhenti kira-kira setahun, dari kegiatan melukis. Selebihnya Zam melukis terus. Apa saja: komik, ilustrasi, potret Bung Karno, komik lagi. Juga ketika sudah bekerja di Kantor Penerangan, bagian tata usaha. Ketika itu usaha membuat komik sudah serius dikerjakan walaupun pada awalnya coretan, garisnya belum seperti sekarang ini. "Saya hidup sekarang ini dari melukis semata-mata. Dari dulu begitu. Jaman perang kemerdekaan pun, di desa hanya saya yang bisa menggambar Bung Karno dan Bung Hatta. Di situlah saya hidup karena gambar itu dibeli oleh pedagang Cina yang banyak duit. Untuk mengganti gambar Ciang Kai Sek." Zam tersenyum. Ada kesan bahagia yang ditutupi. Ia berhak untuk membanggakan. Anaknya tujuh, salah satu menjadi dokter. Semata-mata dari komik!



Ganda Wirama
Untuk memasukkan anaknya menjadi mahasiswa sampai merebut gelar dokter, Zam bekerja sebagai ilustrator di Penerbit Hasmar. Satu ilustrasi dibayar, sekarang ini, Rp 750,– Tidak perduli yang dibuat gambar ukir- ukiran atau sekedar segi tiga. Buku-buku pelajaranlah yang diberi ilustrasi. Zam melakukan dengan tekun. Saya tak bisa menahan rasa heran ketika melihat Zam, 56 tahun, mencari bahan untuk membuat ilustrasi seorang naik sepeda motor. Zam harus mengamati semua, melihat gambar, meneliti, sebelum menuangkan menjadi ilustrasi. "Saya lebih dulu membuat kartun. Tapi dulu kami tak membedakan kartun atau komik." Menjelang tahun 1940, kartun banyak dijumpai di majalah Terang Bulan. Komiknya yang pertama adalah Detektlf Bahtar yang dimuat pertama kali harian Warta Berita 23 Juni 1966, juga dalam majalah Waktu. Ada dua seri mengenai Detektif Bahtar ini, semua bersangkut paut dengan kejadian politik. Kekacauan suasana, sabotase yang berhasil dicegah oleh Detektif kita. "Saya tak bermaksud bikin cerita politik. Terlalu berat resikonya." Komik berikutnya – yang terbit adalah Luana, penerbit Casso, 1966. Tarzan wanita yang rambutnya panjang ini, sudah memperlihatkan kecermatan Zam. Garis-garisanya, tokohnya, lebih dekat kepada gambar realis berbeda dengan serial Detektif cenderung karikatural. Luana, seri berikut, terbit tapi yang melukis adalah Bahsjar SJ. Diana Cinda Mato (1966) diterbitkan menyusul dengan komik- komik yang lain, seperti Dewi Krakatau, Merak Jingga (di sini terlihat kegemaran Zam yang khas: menghubungkan dongeng dengan nama asal usul kota, daerah atau kecamatan), seperti juga Si Balga (kita bisa menebak kota Sibolga yang terjadi kemudian kan?).
Komik-komik ini memperlihatkan potret Zam yang berbeda dengan komikus lain. Karyanya bisa dicatat: Panglima Denai (juga nama tokohnya Alang Jemal menjadi nama jalan di Medan! ), Datuk Seruwrai, Paluh Hantu, Ratu Karimata (dua jilid) Panglima Taring (6 jilid). Sejarah Danau Toba (1964), menarik dalam pengungkapan misteri Batak, akan tetapi sayang tidak selesai. Baru kemudian disusul dengan 24.000 Tahun Danau Toba, yang betul-betul memperlihatkan Cecil B. de Mille dalam komik Indonesia. Dengan komik ini Zam memperlihatkan apa yang tak mungkin dilakukan komikus lain. Penggalian cerita sampai 24.000 tahun, lengkap dengan keadaan jagad raya, flora, fauna, sejarah yang digarap titik demi titik. Bukan sekedar ungkapan akan tetapi penonjolan kerajinan menempatkan titik demi titik dan sesungguhnya memang titik demi titik. Pada karyanya yang terbaru dibuat, Ganda Wlrama masih terlihat semua "senjata" Zam. Dimuat bersambung di harian Waspada sejak 16 Juli 1977, dan baru selesai setelah 364 kali pemuatan. Cerita ini melibathan 43 tokoh utama yang memegang peranan berarti - yang kesemuanya dilukiskan satu persatu! Padahal kisah yang disajikan jaman baheula – jaman Marco Polo datang ke Sumatra.



Jendral
Di mana rahasia ketekunan Zam? "Pertama kali, saya membuat komik untuk saya nikmati sendiri. Baru orang lain." Zam merasakan tanggungjawabnya untuk membuat gambar dengan betul. "Ideal sekali kalau kita tidak menggantungkan hidup dari menggambar. Jadi kita bisa lebih teliti lagi. "Zam masih mengharapkan bisa membuat komik yang memuaskan hatinya. "Saya ingin membuat satu peninggalan. Satu komik saja." Tadinya ia merasa sia-sia menjadi komikus. "Isteri saya sendiri lebih suka baca komik dik Taguan," tutur Zam, di rumah komplek pegawai negeri di Jalan Seksama, Medan. "Komik saya baru dibaca kalau ada tetangga yang menanyakan." Tadinya ingin meninggalkan sesuatu dalam bidang melukis. Namun kepercayaan pada komik mulai tumbuh lagi. Bisikan dari Taguan Hardjo menguatkan niatnya. Cukup banggakah Zam menjadi komikus? "Karena adik datang ke Medan untuk mencari saya, saya merasa bangga. Isteri saya sering bilang, sementara teman-teman yang dulu melukis sudah jadi jendral, sudah jadi menteri saya tetap menjadi komikus." "Tetapi pak Zam juga jendral dalam dunia komik." Tiba-tiba saja Zam tersenyum. Tambah lebar. Kulit wajahnya yang putih bersemu dadu. Kalau Zam bergembira, itu karena mendengar komentar yang Jujur

 

Saat ini pembaca komiknya baru bisa mengagumi ketelitiannya. Besok lusa, siapa tahu menyenangi ceritanya, dan kemudian masyarakat Deli berterimakasih karena dongeng menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Suatu saat nanti dunia komik Indonesia merasa bangga karena Zam Nuldyn turut membuatkan jalan lebar bagi perkembangannya.

 

 

 

Tiga yang Berharga (3-habis)
Taguan Hardjo
Raja yang Menyongket Pesan
Oleh: Arswendo Atmowiloto





"Yang bilang komik merusak itu bukan orang gila." Yang bilang seperti ini adalah Taguan Hardjo. Sambil terus merokok Commodore secara kereta api, lelaki yang kelihatan jauh lebih muda dari usia sebenarnya, 44 tahun, melanjutkan dengan suara pelan, yakin sekali." Merusak kalau tak bisa dikontrol." Dikontrol apanya "Sensasinya. Bahan komik selalu sensasi. Kalau tidak awas akan merongrong pendidikan." Ini bisa dihindarkan kalau, "...masing-masing pelukis komik mau sepakat untuk menyadari, sedikit banyak, tugas seorang guru dan mau bersikap sebagai pendidik."
Taguan sendiri mengindentisir dirinya sebagai pendidik. "Walau tidak secara formil." Dari segi penyediaan buku, Taguan juga melihat kemungkinan komik merupakan bahaya. "Yaitu apabila masyara kat tak punya banyak pilihan." Baik dari jenis komik yang tersedia di pasaran maupun tak ada pilihan bacaan yang lain. Barangkali agak susah menemukan komikus seperti Taguan. Jernih jalan pikirannya, tidak memanjakan emosi dalam
membicarakan profesi yang sering dijadikan sasaran caci maki. Taguan lebih tenang, dan, lebih yakin pada dirinya sendiri."Dua puluh lima persen dari hidup saya, saya peroleh dari komik, seperti dari sekolah. Sisanya yang lima puluh persen dari masyarakat.

Tjip, untuk anak
Padahal, menurut pengakuan Taguan, ia tak pernah berniat menjadi komikus. Lahir di Suriname, Amerika Selatan, 1935. Masa kanak-kanaknya dilalui dengan biasa, sebagai anak sulung dengan 14 adik. Satu-satunya yang membedakan dengan anak-anak lain menurut penglihatan Taguan ialah karena dirinya tertarik pada kesenian. Pada usia masih belia, Taguan sudah tertarik membuat filem. Dengan kamera tanpa suara, Taguan pernah menyelesaikan filem Tondo, dengan masa putar sekitar 20 menit. "Aneh," tuturnya, "karena hanya saya yang melakukan itu. Anak-anak lain dalam kelompok saya tidak ada yang tertarik
Tahun 1963, ayah yang berdarah Jawa kembali ke Sumatera Barat, sementara sang ibu yang berdarah Belanda kembali ke Belanda. Saudara-saudara nya terbagi dua juga. Di Sumatera Barat, keluarganya mendapat tanah untuk diolah seluas 250 hektar. "Tapi tempatnya sangat jauh di pelosok, dan tak bisa diolah seluruhnya". Taguan tak tahan. Pergi ke Medan. Baginya tak sulit mencari pekerjaan. Bahasa sehari-hari yang dipergunakan adalah bahaaa Belanda, dan saat itu Belanda masih berkuasa. Kali ini pekerjaannya ada hubungan dengan kegemarannya. Menjadi pelukis teknik pada perusahaan kereta api di Dili. Membuat denah- denah. Setelah kawin (1966) dengan pilihan yang sama-sama datang dari Amerika Selatan, Taguan mulai menggambar lagi. Coretan yang pertama adalah membuat komik dengan tokoh tupai yang diberi nama Tjip. Dari coretan pertama sudah terlihat kekuatan Taguan pada penguasaan anatomi. Tapi kenapa ceritera binatang? "Pengaruh Walt Dianey. Waktu itu saya banyak membawa komik-komik tersebut. Seya rnenirunya. Saya bawa ke toko buku Gerak, tapi ditolak. Di sana saya disodori komik karya Delsy Syamsumar. Yang laku yang begini, kata pemilik toko tersebut."

Untung Taguan bertemu Mohamad Said yang memimpin harian Waspada. Pak Said inilah yang memberi semangat dan dorongan besar pada Taguan. Tjip diterima. Tapi sebelum itu Taguan harus berlatih dulu. Menggambar terus. Membuat karikatur untuk harian tersebut. Begitu kesengsemnya Taguan, hingga pekerjaan yang tetap ditinggal. "Padahal saat itu pun jabatan sebagai kepala bagian disain sudah disediakan." Taguan lebih suka membuat Tjip Tupai. Seri itulah yang dibuat pertama (1967). Agak menarik kisahnya, karena kemampuan berbahasa Taguan masih berlepotan. "Kami tak menggunakan bahasa Indonesia di Suriname, dan tidak pula di Sumatera Barat." Alhasil, temannya yang sudah menjadi wartawan, Eddy Ellison, menjadi polisi bahasa baginya.
"Tjip Tupai saya ciptakan untuk pembaca anak-anak. Saat itu yang ada komik untuk orang dewasa, walau kenyataannya anak- anak yang membaca." Tjip di- muat bersambung tapi tak diterbitkan. "Takut ditertawakan. " Katanya polos. Sebagai gantinya Taguan membuat Mencari Musang Berjanggut, Kisah pribumi yang diolah kembali. Gambar dalam kotak, sementara teks di bawah. Naratif sekali. Sejak dimuat, sambutan meluap. Juga ketika dibukukan. Cetakan pertama, 10.000 eksemplar habis. Kedua dan ke tiga, berjumlah 60.000. Jumlah yang besar. Dan memang saat itu masih mungkin. Apalagi penerbit Harris mau bersaing dengan komik Melodi dari Bandung. Komik R.A. Kosasih atau S. Ardi Soma yang sudah merajai, harganya Rp ll,- sedangkan terbitan Medan hanya Rp 9.-


Batas Firdaus
Sejak sukses penjualan Mentjari Musang Berjanggut (1968), Taguan berproduksi keras. Lahir komik-komik berikut dengan subur. Kematangan bercerita, penguasaan garis menunjukkan perkembangan. Wajah-wajah yang ditampilkan, problem yang digarap, semuanya menarik perhatian. Rata-rata komik Taguan bagus kisahnya walau pada beberapa yang lain gambarnya tidak sempurna. ada yang tergesa, boleh disebut coretan Tetapi pada beberapa karya yang betul-betul bagus, pada saat prima, yang lahir coretan dengan penguasaan arsiran yang menjadi kekuatan utama. arsiran yang dilahirkan Taguan, mampu menunjukkan dimensi yang kuat. Arsiran silang, berurutan, mampu memperlihatkan lekuk hidung, bentuk mata, pipi tembam, gigi tongos, yang sekaligus menampilkan watak batin pelaku-pelakunya Arsiran ini juga sangat membantu penggambaran tokohnya. Dari close up, samping kejauhan, semuanya bisa dikenali sementara kebanyakan komikus mengalami kesulitan untuk menggambar tokoh yang sama pada adegan yang berbeda. Yang sama uniknya juga, pada Mentjari Musang Berdjanggut, dan terutama pada Keulana 1969 kita bisa menemukan penggunaan raster. Jadi latar belakang yang biasa kosong melompong putih pada komik lain, oleh Taguan diisi dengan sapuan wama kelabu. Ini hanya mungkin karena Taguan mengenal tehnik cetak-mencetak. Taguan melaju, seakan tak pernah hehabisan bahan. Abu nawas (dalam dua versi, 1958 dan 1960). Singa Teruna, Moriss 1960) si jagoan wanita serta Kapten Yani, serial yang legendaris lebih dari sepuluh judul. Komik humornya seperti Sekali tepuk tiga nyawa, pengaruh cerita model Abunawas, Dalmoleh Sibuta Melek (1961) tentang si Dul yang buta tapi matanya terbuka nyalang Humor Emas Sekendi 1962 dan yang baru Si Pinto Minta Kuat (1972) yang satria komik yang berbau perjuangan ka dilihat judulnya, yaitu serial Bran Jasa (1962) termasuk pembebas Irian Barat, Bentjak Menggelegak (1963), bisa juga dimasukkan di sini Telandjang Udjung Karang, kisah nelayan pantai yang bergulat dgn koperasi . Kisah semi sejarah spt. Pangeran Sulong (1963)dan Tan Tualang (1976) yang baru masih memperlihatkan perhatian Taguan pada kisah masa lampau, Yang berbau filosofi, diawali dengan Batas firdaus (1960) dan seri yang ditarbitlkan sendiri, yaitu Dikau Pemimpin (1964), Putri Agung, Namanya Manusia, di samping dari cerita eropa klasik seperti Ben Hur 1960) dan Spartacus (1961). ini belum semuanya akan tetapi kalau diperhatikan tahun- tahun pembuatan, Taguan betul- betul marajalala mulai 1961 sampai sekitar 1964. Menurut pengakuan sendiri pada saat itu Taguan seharinya biaa menyelesaikan enam buah komik yang bebeda dalam sekian banyak media. Hanpir semua harian Medan memuat komiknya kadang bukan hanya satu! Mengherankan juga pada masa sibuk itu bisa lahir Batas Firdaus, yang mengangkat namanya mengungguli komikus yang lain dalam memilih tema, mengolah Plot, dan cara penceritaan. Taguan tak kalah disejajarkan dengen sastrawan Indoaesia yaag telah kesohor.
Batas Firdaus menceritakan kisah dua ayah dan anak gadis (kadang dipanggil Miranda) di sebuah pulau terpencil. Kisah ini berawal setahun setelah perang nuklir yang memusnahkan Amerika, Eropa dan Afrika. Konflik dimulai karena Ayah ingin meneruskan kehidupan di dunia, dengan mengawini Gadis. Anak perempuan ini menolak tegas. "Nabi Adam pun tak melakukan itu. Keturunannya pun tidak melakukan dengan yang membuahi." Konflik terangkat. Ayah mulai gelisah. Kecemburuannya dibangkitkan melihat burung yang berpasangan, lewat pikiran praktis dan pembenaran-pembenaran. "Ingat Miranda, enam puluh tahun lagi pengaruh radiasi lenyap dan kita sudah punya turunan." Tapi Gadis menolak. Malah berniat bunuh diri ke tengah laut. Arus yang kuat menghempaskan kembali, dalam keadaan sakit. Saat itu juga terdampar makhluk berkulit hitam Si Hitam berambut keriting pendek, jelek, dan berpakaian laki-laki. Soal meneruskan generasi selesai? Ayah tak mau menerima. "Kalau Si Hitam kubunuh, kau mau denganku Miranda?" Konflik makin keras. Ayah tak tahan dengan daya tahan, benteng moral anak gadisnya. Rencana pemerkosaan digagalkan oleh Si Hitam. Rencana bunuh diri, karena tak tahan, digagalkan. Saat itu badai keras. Si Hitam berhasil mengikat Ayah, dan Miranda, tapi ia sendiri terseret. Mati? Tidak, hanya terluka, pakaian koyak. Barulah terbongkar misteri sesungguhnya. Si Hitam ternyata berkelamin perempuan. Ayah malu, sungkan, dan harus menerima kenyataan. Miranda tersenyum karena batas firdausnya tetap tegak. Secara tidak terlalu samar, pesan Taguan menonjol. Itulah salah satu ciri khas Taguan: pesan. Dan pesan itu dianyam begitu halus dan menyatu. Seperti pada Si Pinto Minta Kuat, yang satiris. Pinto pergi mencari guru silat untuk membalas dendam kematian ayahnya. Heran melihat jago silat yang main dal-del membereskan nyawa lawan. Heran melihat jago-jago pada berantem membalas dendam. Lah, lama-lama semua hanya balas dendam terus. Pinto yang mempunyai kekuatan ajaib menjadi jagoan, tetapi tidak bisa menemukan pembunuh sebenarnya. Yang dikalahkan ternyata musuh entah siapa. Ketika pulang barulah ibunya bercerita. Ibunyalah yang membunuh Ayah Pinto. Yaitu dengan melempar penumbuk sambal. Alasannya karena Ayah Pinto main perempuan. Begitulah Taguan mengakhiri adegan "komik silatnya".

Dicegat offset
Kaberhasilan Taguan, berarti duit. Tetapi sebagaimana layaknya seniman, keuangan yang menggendut tiba-tiba merubahnya menjadi donatur. Berbagai kegiatan kesenian, seperti pertunjukkan teater, hasil komiknya menjadi sponsor. Honor yang diterima Taguan luwes. Waktu itu, seratus ribu perjudul pun diberi oleh Firma Harris, lima puluh ribu tak apa. Taguan ingin mengajak komikus lain merasakan panenan ini. Taguan berusaha mendirikan sindikat. Agar koran-koran dan penerbit tidak hanya memuat komiknya sendiri. "Tetapi gagal," katanya sedih. "Mereka maunya komik saya." Usaha lain yang dilakuhan adalah membentuk organisasi (namanya lupa, juga anggota yang lain seperti Zam maupun Jas). Malang tak bisa ditolak. Situasi politik maunya begitu. Tahun 1964 banyak koran ditutup karena dituduh anggota BPS (Badan Pendukung Soeheno), termasuk Pembangunan, korannya. "Jauh-jauh saya datang ke Indoneeia ingin mengenal bangsa saya. Bukan partai tertentu. Saya ingin bebas dari ideologi-ideologi." Tapi ya susah. Bikin begini takut ada yang tersinggung, bikin begitu disangka mengejek. "Padahal saya ingin menyapu semua lapisan pembaca. Ya tukang becak, ya intelektuil, ya ibu-ibu, ya kakek-kakek yang suka ngalamun. Itulah sebebnya jenis komik saya banyak sekali." Ketika menganggur itulah Taguan menekuni bidang offoet. Cetak offset masih langka di Sumatera Utara, dan Taguan yang suka teknik bisa memperbaiki mesin yang rusak, atau capat mengerti mesin baru. Pun ketika BPS direhabilitir, Taguan masih terus berkelanjutan di offset. Dapat bea siswa dari Proyek Kerja sama Bidang Grafika (belum bernama Pusat Grafika Indonesia) untuk belajar setahun di Belanda (1968), sampai sekarang Taguan lebih berkecimpung di bidang offset. Agaknya cegatan offset ini mengingatkan kesukaannya akan teknik, masa remaja dulu. Buktinya ia sempat muncul di TV Medan dalam acara aeromodeling, hobbinya yang baru.

Tidak pernah membunuh
Taguan memang sudah nyaman, kalau mau begitu. Ketiga anaknya sudah besar. Malah yang sulung, wartawan dan sutradara teater, baru saja kawin. Komik-komiknya paling akhir adalah Tan Tualang, tiga tahun lalu. Masih menunjukkan kelebihan Taguan dan masih ada pencarian. Dalam komik yang dimuat bersambung di Analisa, semuanya diceritakan dengan dialog. Tak ada narasi sama sekali. ’Titik tolak dalam membuat komik adalah menyampaikan pesan. Tanpa itu tak bisa. Pesaan itu disongket sedemikian rupa supaya sampai. Gambar bisa ngawur, tetapi cerita tidak." Saya menemukan sendiri bahwa dalam perencanaan Taguan menuliskan dialog-dialognya lebih dulu sebagai konsep, dan bukan sebagai sketsa adegan atau gambarnya! "Cerita saya bertolak dari mendengarkan pangalaman, membaca, yaag kemudian saya reka-reka sendiri. Plotnya saya rubah. Lalu saya berusaha menggambarkan setelah riset. Misalnya cerita tentang sejarah Aceh, saya harus tahu bentuk keris bangsawan, bagaimana cara memakainya. Begitu juga kain yang dikenakan dan proporti yang lain." Menjawab pertanyaan, Taguan tarsenyum kecil. "Ya, ya, saya tidak pernah mambunuh tokoh tanpa ampun, bagaimana pun jahatnya tokoh itu. Dalam komik saya. yang jelek bisa jadi baik, yang jahat bisa luhur tapi bukan yang lemah jadi kuat. Saya sama serkali tak tertarik untuk yang terakhir itu.

Beberapa kali bertemu di rumah di jalan Sei Kera, dan selama berjalan bersama, saya sempat membakar Taguaa untuk membuat komik lagi Memang kedudukannya sebagai ahli mesin offset, dosen grafika, konsultan penerbit, (ah, Taguan memang capman, kata orang Medan. tyerlalu banyak keahlian. Menulis novel bisa. Menterjemahkan Max Havelar pun telah dilakukan sebelum HB Jassin ) telah mencukupi akan tetapi bukankah ia masih mampu untuk hadir kembali? muncul kembali untuk mengukuhkan kehadirany a sebagai komikus yang pernah merajai?
Taguan masih mempunyai. Kekuatan bercerita, penguasaan garis, masih bisa dicontohkan sebagai komik yang baik. Taguan sendiri yakin bahwa komik masih akan dibaca, terutama anak remaja "Kalau bisa memegang pikiran anah-anak dan remaja, kita memegang masa depan mereka," katannya.

Ah, janganlah dilepaskan bang Taguan.


 

 


3 Comments
fortheblossom wrote on Nov 30, '07
Ga nyangka kalo komik kita dah ada dari jaman jepang :).
erwinprima wrote on Nov 30, '07
iya.. sayangnya dokumentasi kita parah.. mau liat barangnya udah pada gak ada... makanya aku ngeremasterin, biar anak cucu bisa pada tau..
fortheblossom wrote on Nov 30, '07
Hebattt... Emang harus ada yang bergerak dulu. Kalo ga ntar bener2 ngilang dan diakuin ma yang lain. Keep up a good work yaa :).
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help